Kejang Tanpa Demam

(dikutip dari tabloid NAKITA)

Menurut dr. Merry C. Siboro, Sp.A, dari RS Metro Medical Centre, Jakarta, kejang adalah kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak. “Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan bayi atau anak terlalu tinggi atau bisa juga tanpa disertai demam.” Kejang yang disertai demam disebut kejang demam (convalsio febrilis). Biasanya disebabkan adanya suatu penyakit dalam tubuh si kecil. Misal, demam tinggi akibat infeksi saluran pernapasan, radang telinga, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih. Sedangkan kejang tanpa demam adalah kejang yang tak disertai demam. Juga banyak terjadi pada anak-anak. Penyebabnya bermacam-macam (lihat boks).

BISA DIALAMI SEMUA ANAK

Kondisi kejang umum tampak dari badan yang menjadi kaku dan bola mata berbalik ke atas. Kondisi ini biasa disebut step atau kejang toniklonik (kejet-kejet). Kejang tanpa demam bisa dialami semua anak balita. Bahkan juga bayi baru lahir. “Umumnya karena ada kelainan bawaan yang mengganggu fungsi otak sehingga dapat menyebabkan timbulnya bangkitan kejang. Bisa juga akibat trauma lahir, adanya infeksi-infeksi pada saat-saat terakhir lahir, proses kelahiran yang susah sehingga sebagian oksigen tak masuk ke otak, atau menderita kepala besar atau kecil,” tutur Merry.

Bayi yang lahir dengan berat di atas 4.000 gram bisa juga berisiko mengalami kejang tanpa demam pada saat melalui masa neonatusnya (28 hari sesudah dilahirkan). “Ini biasanya disebabkan adanya riwayat ibu menderita diabetes, sehingga anaknya mengalami hipoglemi (ganggguan gula dalam darah, Red.). Dengan demikian, enggak demam pun, dia bisa kejang.”

Selanjutnya, si bayi dengan gangguan hipoglemik akibat kencing manis ini akan rentan terhadap kejang. “Contohnya, telat diberi minum saja, dia langsung kejang.”

Uniknya, tambah Merry, bayi prematur justru jarang sekali menderita kejang. “Penderitanya lebih banyak bayi yang cukup bulan. Diduga karena sistem sarafnya sudah sempurna sehingga lebih rentan dibandingkan bayi prematur yang memang belum sempurna.”

JANGAN SAMPAI TERULANG

Penting diperhatikan, bila anak pernah kejang, ada kemungkinan dia bisa kejang lagi. Padahal, kejang tak boleh dibiarkan berulang selain juga tak boleh berlangsung lama atau lebih dari 5 menit. Bila terjadi dapat membahayakan anak.

Masalahnya, setiap kali kejang anak mengalami asfiksi atau kekurangan oksigen dalam darah. “Setiap menit, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel-sel pada otak, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak. Bayangkan apa yang terjadi bila anak bolak-balik kejang, berapa ribu sel yang bakal rusak? Tak adanya aliran oksigen ke otak ini bisa menyebakan sebagian sel-sel otak mengalami kerusakan.”

Kerusakan di otak ini dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan, bahkan retardasi mental. Oleh karenanya, pada anak yang pernah kejang atau berbakat kejang, hendaknya orang tua terus memantau agar jangan terjadi kejang berulang.

DIMONITOR TIGA TAHUN

Risiko berulangnya kejang pada anak-anak, umumnya tergantung pada jenis kejang serta ada atau tidaknya kelainan neurologis berdasarkan hasil EEG (elektroensefalografi). Di antara bayi yang mengalami kejang neonatal (tanpa demam), akan terjadi bangkitan tanpa demam dalam 7 tahun pertama pada 25% kasus. Tujuh puluh lima persen di antara bayi yang mengalami bangkitan kejang tersebut akan menjadi epilepsi.

“Harus diusahakan, dalam tiga tahun sesudah kejang pertama, jangan ada kejang berikut,” bilang Merry. Dokter akan mengawasi selama tiga tahun sesudahnya, setelah kejang pertama datang. Bila dalam tiga tahun itu tak ada kejang lagi, meski cuma dalam beberapa detik, maka untuk selanjutnya anak tersebut mempunyai prognosis baik. Artinya, tak terjadi kelainan neurologis dan mental. Tapi, bagaimana jika setelah diobati, ternyata di tahun kedua terjadi kejang lagi? “Hitungannya harus dimulai lagi dari tahun pertama.”

Pokoknya, jangka waktu yang dianggap aman untuk monitoring adalah selama tiga tahun setelah kejang. Jadi, selama tiga tahun setelah kejang pertama itu, si anak harus bebas kejang. Anak-anak yang bebas kejang selama tiga tahun itu dan sesudahnya, umumnya akan baik dan sembuh. Kecuali pada anak-anak yang memang sejak lahir sudah memiliki kelainan bawaan, semisal kepala kecil (mikrosefali) atau kepala besar (makrosefali), serta jika ada tumor di otak.

RAGAM PENYEBAB

“Kejang tanpa demam bisa berasal dari kelainan di otak, bukan berasal dari otak, atau faktor keturunan,” kata Merry yang lalu menjabarkannya satu per satu di bawah ini.

* Kelainan neurologis

Setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak bisa menimbulkan bangkitan kejang. Contoh, akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, atau kekurangan oksigen dalam jaringan otak (hipoksia).

* Bukan neurologis

Bisa disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, gula darah rendah akibat sakit yang lama, kurang asupan makanan, kejang lama yang disebabkan epilepsi, gangguan metabolisme, gangguan peredaran darah, keracunan obat/zat kimia, alergi dan cacat bawaan.

* Faktor keturunan

Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada karena anaknya berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.

WASPADAI DI BAWAH 6 BULAN

Orang tua harus waspada bila anak sering kejang tanpa demam, terutama di bawah usia 6 bulan, “Karena kemungkinannya untuk menderita epilepsi besar,” kata Merry. Masalahnya, kejang pada anak di bawah 6 bulan, terutama pada masa neonatal itu bersifat khas. “Bukan hanya seperti toniklonik yang selama ini kita kenal, tapi juga dalam bentuk gerakan-gerakan lain. Misal, matanya juling ke atas lalu bergerak-gerak, bibirnya kedutan atau tangannya seperti tremor. Dokter biasanya waspada, tapi kalau kejangnya terjadi di rumah, biasanya jarang ibu yang ngeh.”

Itulah sebabnya, orang tua harus memperhatikan betul kondisi bayinya.

MENOLONG ANAK KEJANG

1. Jangan panik, segera longgarkan pakaiannya dan lepas atau buang semua yang menghambat saluran pernapasannya. “Jadi kalau sedang makan tiba-tiba anak kejang, atau ada sesuatu di mulutnya saat kejang, segera keluarkan,” tutur Merry.

2. Miringkan tubuh anak karena umumnya anak yang sedang kejang mengeluarkan cairan-cairan dari mulutnya. “Ini sebetulnya air liur yang banyak jumlahnya karena saraf yang mengatur kelenjar air liur tak terkontrol lagi. Kalau sedang kejang, kan, saraf pusatnya terganggu. Bukan cuma air liur, air mata pun bisa keluar.”

Guna memiringkan tubuh adalah supaya cairan-cairan ini langsung keluar, tidak menetap di mulut yang malah berisiko menyumbat saluran napas dan memperparah keadaan.

3. Jangan mudah percaya bahwa meminumkan kopi pada anak yang sedang kejang bisa langsung menghentikan kejang tersebut. “Secara medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak mengalami kejang, yang malah bisa menyebabkan kematian.”

4. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat, jangan sampai otak kelamaan tak mendapat oksigen. “Usahakan lama kejang tak lebih dari tiga menit. Siapkan obat antikejang yang disarankan dokter bila anak memang pernah kejang atau punya riwayat kejang.”

ANAK EPILEPSI HARUS KONTROL SETIAP 3 BULAN

Mereka yang berisiko menderita epilepsi adalah anak-anak yang lahir dari keluarga yang mempunyai riwayat epilepsi. Selain juga anak-anak dengan kelainan neurologis sebelum kejang pertama datang, baik dengan atau tanpa demam.

Anak yang sering kejang memang berpotensi menderita epilepsi. “Tapi jangan khawatir, anak yang menderita epilepsi, kecuali yang lahir dengan kelainan atau gangguan pertumbuhan, bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Prestasi belajar mereka tidak kalah dengan anak yang normal,” kata Merry.

Jadi, kita tak perlu mengucilkan anak epilepsi karena dia bisa berkembang normal seperti anak-anak lainnya. “Yang penting, ia tertangani dengan baik. Biasanya kalau anak itu sering kejang, dokter akan memberi obat yang bisa menjaganya supaya jangan sampai kejang lagi. Pada anak epilepsi, fokus perawatannya adalah jangan sampai terjadi kejang lagi. Untuk itu, perlu kontrol, paling tidak setiap 3 bulan agar monitoring dari dokter berjalan terus.”

Santi Hartono. Ilustrator: Pugoeh

 

Advertisements
Posted in Uncategorized. Tags: . 15 Comments »

Mengajar Bayi Anda Matematika

Mengajarkan Matematika pada Anak Balita

dengan Dot Cards (Metode Glenn Doman)

Bahan yang digunakan :

Pertama,

Seratus  potong kertas manila putih berukuran

 28 x 28 cm, masing-masing pada salah satu mukanya

ada DOTS atau bola merah dengan garis tengah 2 cm. 

Bola-bola ini berjumlah dari SATU hingga SERATUS pada

kartu terakhir. Dibalik kartu terdapat angka yang

menyatakan jumlah bola yang ada.

Dots/bola digambarkan secara acak di atas kertas tsb.

 Kedua,

Seratus potong kartu yang lebih ringan 14 x 14 cm

 bertuliskan sebuah angka merah setinggi 12,5 cm mulai

dari angka 1 hingga 100 pada kartu terakhir.

Warna merah dipakai karena memang menarik bagi seorang anak. 

========================================  Cara mengajarkan :

Ambillah kartu yang ada SATU bola merahnya  saja,

Sekarang angkatlah kartu tersebut di luar jangkauan tangannya

dan katakan  kepadanya,  "INI SATU".

 (Jangan sampai si anak melihat benda-benda lain. )

Tunjukkan kepadanya sesingkat mungkin. Dua atau tiga detik.

 Kemudian letakkan kartu tersebut terbalik di pangkuan kita.

Pada  mulanya  anda  akan  merasa janggal. Namun demikian,

semakin  kita  mahir  menggunakan kartu-kartu itu, semakin

cepat anak kita dapat memahaminya. 

Perlu diingat  bahwa  angka  hanyalah simbol yang mewakili nilai

dari  bilangan.  

Sekarang  angkatlah   kartu  kedua, dan katakan, "INI DUA".  

Lakukan  seterusnya  hingga kartu berjumlah SEPULUH BOLA.

Seluruh  proses ini kurang lebih memakan waktu kurang dari satu

menit.

Lakukanlah  setiap  hari. Dalam waktu lima hari ia telah mengetahui

fakta-fakta nyata dari angka satu sampai sepuluh,

tetapi jangan meyuruhnya untuk membuktikan hal itu

lebih dahulu. 

Pada hari  keenam,

kita singkirkan kartu 1 dari kesepuluh kartu

di  pangkuan  dan  menambahkan kartu 11.  

Pada hari ketujuh,

kita  singkirkan  kartu  2 dan menambahkan kartu 12. 

Terus lakukan  seperti itu hingga angka 100. Kegiatan ini kurang

lebih akan memakan waktu tiga bulan. 

Yakinlah, kegiatan ini akan  menghasilkan  kemampuan anak

yang luarbiasa. Kini ia akan  dengan  cepat dapat membedakan

empat puluh lima bola dan empat puluh enam.    Langkah berikutnya PENJUMLAHAN. 

Pada hari ke-30, anda telah  memperlihatkan  hingga 35 bola.

Semakin banyak yang diperlihatkan  bola-bola  kepada  anak

berarti anda mulai mengajarkan  penjumlahan.  

Mulai  kita  melangkah mengajarkan penjumlahan  dengan

meletakkan bola-bola  merah berjumlah  dua,  tiga,  empat,

lima, enam, tujuh, delapan, sembilan,  hingga sepuluh

 di  pangkuan anda.

Semuanya menghadap ke bawah dan kartu berbola dua

diletakkan paling atas di tumpukan itu. 

Dengan  semangat  katakanlah,  "satu tambah satu sama

dengan  dua". Kemudian kita perlihatkan kartu berbola dua.

Perlihatkan tidak lebih dari satu detik. Jangan menjelaskan

arti kata-kata "tambah" atau "samadengan". Katakanlah "Satu

tambah  dua  samadengan ." Jangan katakan "satu tambah dua

menjadi...." 

Jika  kita  mengajarkan  fakta-fakta  kepada

anak-anak,   mereka   akan   menarik  kesimpulan  tentang

hukum-huikumnya  lebih  tepat  dan cepat. Kemudian katakan

"Satu  tambah  dua  sama  dengan tiga" hingga "satu tambah

sembilan   sama   dengan   sepuluh"  yang  kemudian  kita

perlihatkan hasilnya. 

Lakukanlah  tiga  kali pada hari pertama, sambil kita

 meneruskan   untuk   memperlihatkan  kartu-kartu  berbola

sebanyak  tiga kali sehari. Sebaiknya anda mengatur keenam

waktu secara merata saat daya tangkap anak sedang memuncak. 

Pada  hari  ke-31  anda  mengajarkan  dua tambah dua,

tambah tiga, dan seterusnya hingga tambah delapan. Apa yang

kita  ajarkan  adalah  arti  dari bunyi kata "tambah" dan

"samadengan".  Percaya atau tidak, pada saat kita bertanya

"dua  tambah  empat samadengan enam" kepada seorang dewasa

maka  akan  terlintas  2 + 4 = 6. Tetapi pada seorang anak

akan terlintas dua bola tambah empat  bola samadengan enam

bola. 

Sampai  hari  ke-31  ia  sudah  mengenal  jumlah yang

sbeenarnya sampai dengan 40 dan telah dapat  menambah dalam

setiap kombinasi yang ada sampai dengan 10. Tahap ini yang

terpenting  adalah,  bahwa  ia telah mengerti "tambah" dan

"samadengan" walaupun kita tidak membertiahunya. 

Mulai hari ke-36  dst  kita  tidak  perlu  mengajarkan  dengan

urutan tertentu  lagi.  Ia sudah memahami. Berikanlah ia sekarang

soal penjumlahan maka dengan cepat ia akan bisa menjawab. 

Langkah berikutnya PENGURANGAN. 

Pola ini sama dengan pola penjumlahan.

Katakan  "sepuluh  kurang  satu  samadengan

sembilan"  Dan perlihatkan sejenak kartu berbola sembilan.

Kemudian katakan "sepuluh kurang sembilan samadengan satu".

Pada hari ke-41 anda dapat  mengajarkan mulai dari duapuluh

kurang  satu sampai dengan duapuluh kurang sembilan belas.

Maka  ia  sekarang  sedang menerima sembilan waktu belajar

 yang  sangat  ringkas  setiap  harinya  dengan urut-urutan

 sebagai   berikut:   Kartu-kartu  bilangan,  penjumlahan,

pengurangan,  kartu  bilangan,  penjumlahan,  pengurangan,

kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan. 

Di  hari  ke-42 mulailah dengan tigapuluh kurang satu

hingga tigapuluh kurang duapuluh sembilan. Pada hari ke-43

 mulailah  dengan  soal-soal  pengurangan  dalam bentuk dan

urutan yang tidak teratur sampai jumlah empatpuluh delapan.  

Langkah  berikutnya MEMECAHKAN SOAL. 

Apabila apa yng kita sampikan sungguh-sungguh dan penuh

kasih sayang, Insya Allah akan menghasilkan buah yang

"harum" baunya dan nikmat rasanya. 

Kini kita siap mengajarkan memecahkan soal, ingat

bukan   mengujinya.  Mulailah  dengan  bilangan-bilangan.

Berlututlah di lantai menghadap anak. Ambillah kartu dengan

18  bola  dan  25  bola.  Kemudian  mintalah si anak untuk

menunjuk  pada 25. Permintaan ini diajukan sambil lalu dan

riang.  Jangan  suruh dia mengucapkan duapuluh lima, sebab

kita  tidak  sedang  mengajar  berbicara,  tetapi  sedang

mengajarkan matematika. Jika ia tidak cukup cepat, katakan

dengan gembira, "Yang ini, bukan?" sambil mengangkat kartu

25  bola.  Inilah  cara  mengajar  yang jujur. 

Ulangi lagi hingga  anak dapat menunjukkan dengan benar.

Jika ia dapat mengetahuinya,  pujilah  dan  peluklah.

Bahwa  ia  adalah seorang anak yang terpandai yang pernah

kita kenal. Hal ini memang betul bukan ? 

Begitu kita meluapkan kegembiraan dia akan secepatnya

menaruh  minat pada matematika untuk selamanya. Ia menjadi

yakin   bahwa   matematika  lebih  menyenangkan  daripada

"gula-gula". Terus lakukan seperti itu, maka anak kita akan

lebih   cepat   menunjukkannya.   Lakukan   setelah   itu

pengurangan. 

Sebagai  catatan jangan memberikan waktu khusus untuk

memecahkan    soal-soal,   tetapi   campuradukkan   atau

sewaktu-waktu saja. Hingga anak kita merasakan kesenangan.

Toh tidak ada tekanan yang kita berikan kepada anak kita. 

 

Langkah  berikutnya PERKALIAN  

 Katakan  kepadanya  kita mengajarkan perkalian.

 Lakukan hal yang sama seperti sebelumnya.

Mulailah dengan mengatakan "dua kali dua samadengan empat"

sambil memperlihatkan kartu berbola empat. Teruskan sampai

"dua  kali lima samadengan sepuluh". 

Pada hari ke-51, mulai dengan "tiga kali tiga samadengan

sembilan". Akhirnya "tiga kali delapanbelas samadengan

limapuluh empat". 

Sampai hari ke  58  kita  sampai  pada  "sepuluh  kali enam

samadengan enampuluh".  Pada  waktu  mengajarkan  perkalian

kita bisa menyelipkan satu persoalan perkalian. 

Langkah  berikutnya PEMBAGIAN  

Pada  hari  ke-60  kita mengajarkan   pembagian.

Sampai  langkah  ini  ia  telah mengetahui nilai sebenarnya

hingga enampuluh lima. Mulailah dengan mengatakan

"empat dibagi dua samadengan dua" hingga

enampuluh  empat dibagi dua samadengan tigapuluhdua". 

Pada hari  ke-68  kita  sampai  pada "tujuhpuluh dibagi sepuluh

samadengan tujuh". 

Sewaktu-waktu kita selingi dengan soal pembagian. 

Langkah  berikutnya PERSAMAAN  

Pada  hari ke-70 kita sudah  menjadi  seorang  ahli  matematika.

Katakanlah kita sedang   mengajarkan   persamaan  dengan

riang  gembira.

Sebetulnya ia sudah mengetahui semua persamaan dua langkah.

Sebab,  memang dua tambah tiga samadengan lima, tujuhpuluh

dikurangi  tigapuluhsatu  samadengan  tigapuluh  sembilan,

delapan  kali delapan samadengan enampuluh empat. Sekarang

berikanlah  soal persamaan tiga langkah. Katakanlah "tujuh

tambah   tigabelas   kali  tiga  samadengan  ."  Kemudian

perlihatkanlah  kartu  berbola  enampuluh. 

Setelah  kita mengajarkan tiga langkah persamaan maka

lanjutkanlah dengan langkah-langkah  yang lain. 

Yakinlah apa yang kita ajarkan akan menghasilkan hasil yang

memuaskan. 

Langkah  selanjutnya  ANGKA-ANGKA.  

Langkah  ini  amat mudah. Sekarang kita mengambil kartu-kartu

yang bertuliskan angka (kartu dg ukuran 14 x 14 cm).

Angkatlah kartu yang bertuliskan 1 berwarna merah, dan

katakan "ini satu".  

Lakukan seterusnya hingga hari ke-99 ia akan mengetahui semuanya. 

Selamat Mencoba !

(sumber : Drajat, penulis buku "Bersahabat dengan Matematika")

*******************************************************

Artikel ini adalah pendukung ebook "3 Tahun Pertama

yg Menentukan", yg menyediakan informasi cara mengasuh

anak balita anda menjadi anak yg CERDAS secara FISIK,

MENTAL dan SOSIAL.

Informasi lebih lanjut ttg ebook diatas dapat diperoleh

di: www.balitacerdas.com

atau dg mengirimkan email kosong ke:

babybrain@getresponse.com

*******************************************************

 

 

Posted in Uncategorized. Tags: . 3 Comments »

Mengajar Bayi Anda Membaca

Mengajar Bayi Anda Membaca (Metode Glenn Doman) 

Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia

dari  semua  makhluk hidup di dunia ini, cuma manusia yang

dapat membaca. 

Membaca  merupakan  fungsi  yang paling penting dalam hidup

dan  dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan

pada  kemampuan  membaca.   Anak-anak dapat membaca sebuah

kata  ketika usia mereka satu tahun, sebuah kalimat ketika

berusia  dua  tahun,  dan  sebuah buku ketika berusia tiga

tahun- dan mereka menyukainya. 

Tahun  1961 satu tim ahli dunia yang terdiri atas, dokter,

spesialis membaca, ahli bedah otak dan psikolog mengadakan

penelitian "Bagaimana otak anak-anak berkembang?". Hal ini

kemudian berkembang menjadi satu informasi yang mengejutkan

mengenai  bagaimana anak-anak belajar, apa yang dipelajari

anak-anak, dan apa yang bisa dipelajari anak-anak. 

Hasil  penelitian  juga  mendapatkan,  ternyata  anak  yang

cedera  otak-pun  dapat membaca dengan baik pada usia tiga

tahun atau lebih muda lagi. Jelaslah bahwa ada sesuatu yang

salah  pada apa yang sedang terjadi, pada anak-anak sehat,

jika di usia ini belum bisa membaca. 

Penelitian tentang Otak Anak 

Bagi  otak  tidak  ada  bedanya  apakah  dia 'melihat' atau

'mendengar'  sesuatu.  Otak dapat mengerti keduanya dengan

baik. Yang dibutuhkan adalah suara itu cukup kuat dan cukup

jelas untuk didengar telinga, dan perkataan itu cukup besar

dan  cukup  jelas  untuk  dilihat mata sehingga otak dapat

menafsirkan. 

Kalau  telinga  menerima  rangsang suara, baik sepatah kata

atau  pesan  lisan,  maka  pesan pendengaran ini diuraikan

menjadi   serentetan   impuls-impuls   elektrokimia   dan

diteruskan  ke  otak  yang  bisa melihat untuk disusun dan

diartikan menjadi kata-kata yang dapat dipahami. 

Begitu  pula  kalau  mata  melihat  sebuah  kata atau pesan

tertulis.  Pesan  visual  ini diuraikan menjadi serentetan

impuls elektrokimia dan diteruskan ke otak yang tidak dapat

melihat,  untuk  disusun  kembali dan dipahami. Baik jalur

pengkihatan  maupun  jalur pendengaran sama-sama menuju ke

otak dimana kedua pesan ditafsirkan otak dengan proses yang

sama. 

Dua faktor yang sangat penting dalam mengajar anak: 

1. Sikap dan pendekatan orang tua 

Syarat terpenting adalah, bahwa diantara orang tua dan anak

harus  ada  pendekatan  yang  menyenangkan, karena belajar

membaca merupakan permainan yang bagus sekali. 

Belajar  adalah:

- Hadiah, bukan hukuman

- Permainan yang paling  menggairahkan,  bukan  bekerja

- Bersenang-senang, bukan bersusah payah

- Suatu kehormatan, bukan kehinaan 

2.  Membatasi  waktu untuk melakukan permainan ini sehingga

betul-betul singkat. 

Hentikan  permainan  ini  sebelum  anak  itu  sendiri ingin

menghentikannya.

========================================

Bahan yang sesuai: 

a. bahan-bahan  dibuat  dari  kertas  putih yang agak kaku

   (karton  poster)

b. kata-kata yang dipakai ditulis dengan spidol  besar

c. tulisannya  harus rapi dan jelas, model hurufnya

   sederhana dan konsisten 

Tahap-tahap mengajar: 

TAHAP PERTAMA : (perbedaan penglihatan) 

Mengajarkan  anak  anda  membaca  dimulai menggunakan hanya

lima  belas kata saja. Jika anak anda sudah mempelajari 15

kata ini, dia sudah siap untuk melangkah ke perbendaharaan

kata-kata lain. 

1. Ukuran karton : tinggi 15 cm, panjang 60 cm 

2. Ukuran  huruf,  tinggi  12,5  cm dan lebar 10 cm, serta

setiap huruf berjarak kira-kira 1,25 cm 

3. Huruf berwarna merah 

4. Gunakan huruf kecil (bukan huruf kapital) 

5. Buatlah  hanya  15  kata,  misal IBU (UMMI/MAMA/BUNDA),

   BAPAK (ABI/PAPA/AYAH) 

6.  Ke-15  kata-kata  pertama  harus terdiri dari kata-kata

yang  paling dikenal dan paling dekat dengan lingkungannya

yaitu  nama-nama  anggota  keluarga,  binatang peliharaan,

makanan kesukaan, atau sesuatu yang dianggap penting untuk

diketahui oleh sang anak. 

Hari Pertama 

Gunakan  tempat  bagian  rumah yang paling sedikit terdapat

benda-benda   yang   dapat  mengalihkan  perhatian,  baik

pendengarannya maupun penglihatannya. Misalnya, jangan ada

radio yang dibunyikan. 

1. Tunjukkan  kartu bertuliskan IBU/AYAH atau yang lainnya

2. Jangan sampai ia dapat menjangkaunya

3. Katakan dengan jelas  'ini bacaannya IBU/AYAH'

4. Jangan jelaskan apa-apa

5. Biarkan  dia  melihatnya  tidak  lebih dari 1 detik

6. Tunjukkan  4 kartu lainnya dengan cara yang sama

7. Jangan meminta  anak  mengulang  apa yang anda ucapkan

8. Setelah kata  ke-5,  peluk, cium dengan hangat dan tunjukkan kasih

   sayang  dengan  cara yang menyolok

9. Ulangi 3 kali dengan jarak paling sedikit 1,5 jam 

Hari Kedua 

1. Ulangi pelajaran dasar hari pertama 3 kali

2. Tambahkan lima  kata  baru yang harus diperlihatkan 3 kali sepanjang

    hari kedua. Jadi ada 6 pelajaran

3. Jangan lupa menunjukkan rasa bangga anda

4. Jangan lakukan test, belum waktunya ! 

Hari Ketiga 

1. Lakukan  seperti  hari ke-2

2. Tambahkan lima kata baru seperti hari kedua sehingga

    menjadi 9 pelajaran 

Hari  keempat,  kelima,  keenam  ulangi seperti hari ketiga

tanpa menambah kata-kata baru. 

Hari Ketujuh 

Beri kesempatan pada anak untuk memperlihatkan kemajuannya:

1. Pilih  kata  kesukaannya

2. Tunjukkan  kepadanya dan ucapkan denga jelas 'ini apa?'

3. Hitung dalam hati sampai sepuluh

   Jika anak anda mengucapkan, pastikan anda gembira

   dan  tunjukkan  kegembiraan  anda

   Jika anak anda tidak memberikan  jawaban atau salah,

    katakan dengan gembira apa bunyi kata itu dan teruskan

 pelajarannya. 

Ancaman 

Kebosanan  adalah  satu-satunya ancaman. Jangan sampai anak

menjadi bosan. "Mengajarnya terlalu lambat akan lebih cepat

membuatnya bosan daripada mengajarnya terlalu cepat" 

Pada  tahap  pertama  ini,  dua  hal  luar biasa telah anda

lakukan: 

1. Dia  sudah  melatih  indera  penglihatan, dan yang lebih

penting:  dia telah melatih otaknya cukup baik untuk dapat

membedakan  bentuk  tulisan yang satu dengan yang lainnya.

2. Dia  sudah  menguasai  salah satu bentuk abstraksi yang

paling  luar  biasa  dalam  hidupnya:  dia  dapat  membaca

kata-kata.  Hanya  ada  satu  lagi  abstraksi  besar harus

dikuasainya, yaitu huruf-huruf dalam abjad. 

TAHAP KEDUA : (kata-kata diri) 

Kita  mulai  mengajarkan  anak  membaca  dengan menggunakan

kata-kata  'diri' karena anak memang mula-mula mempelajari

badannya sendiri. 

1. Ukuran  karton  12,5 tinggi dan 60 cm panjang

2. Ukuran huruf  10  cm tinggi dan 7,5 cm lebar dengan jarak 1 cm

3. Huruf dan warna seperti tahap pertama

4. Buat 20 kata-kata tentang dirinya, misalnya: 

tangan    kaki   gigi   jari   kuku  lutut   mata   perut

lidah    pipi  kuping   dagu   dada   leher   paha  siku

hidung   jempol   rambut   bibir 

5. Dari 3 kelompok kata masing-masing 5 kata di tahap awal,

ambil masing-masing 1 kata lama dan tambahkan dengan 1 kata

baru di tahap kedua 

6.  Dari  20  kata baru pada tahap kedua, ambil 10 kata dan

jadikan 2 kelompok kata masing-masing 5 kata 

7.  Jadi  sekarang  anda  memiliki:

- 3 kelompok kata dari tahap  pertama  yang  sudah  ditambah

  kata-kata baru

- 2 kelompok  kata  baru  dari tahap kedua

- total 5 kelompok kata = 25 kata 

8. Lakukan seperti tahap pertama 

9.  Setelah 5 hari ganti 1 kata dari masing-masing kelompok

dengan kata baru, sehingga anak mempelajari 5 kata baru. 

10.  Setelah  itu  setiap  hari  ganti  1  kata  lama  dari

masing-masing  kelompok  data  dengan  1 kata baru. Dengan

demikian setiap hari anak belajar 5 kata baru masing-masing

datu  dalam  setiap kelompok kata, dan 5 kata lama diambil

setiap harinya. 

TIPS:

1. Usahakan jangan ada 2 kata yang dimulai dengan

yang sama secara berurutan, misalnya 'lidah' dengan 'lutut'

2.  Anak-anak  usia  6 bulan sudah bisa diajarkan. Lakukan

dengan  cara  yang  persis  sama  kalau  anda  mengajarnya

berbicara

3. Ingat,  membaca  bukan  berbicara

4. Usaha mengajar  bayi  membaca  dapat  membaca  dapat

mempercepat berbicara dan memperluas perbendaharaan kata. 

TAHAP KETIGA : (kata-kata 'rumah') 

Sampai  tahap  ini,  baik  orang  tua  maupun  anak  harus

melakukan permainan membaca ini dengan kesenangan dan minat

besar. Ingatlah bahwa anda sedang menanamkan cinta belajar

dalam  diri  anak  anda, dan kecintaan ini akan berkembang

terus  sepanjang  hidupnya.  Lakukan  permainan ini dengan

gembira dan penuh semangat. 

1. Ukuran karton 7,5 cm tinggi dan 30 cm panjang

2. Ukuran huruf 5 cm tinggi dan 3,5 cm lebar dengan jarak lebih dekat

3. Huruf  dan  warna seperti tahap tahap kedua

4. Terdiri dari nama-nama benda di sekeliling anak serta lebih dari 2

suku kata, misalnya: 

kursi, meja, dinding, lampu, pintu, tangga, jendela, dll 

5.  Gunakan  cara  pada  tahap  kedua  dengan  setiap  hari

menambah  5  kata  baru dari tahap ke tiga 

6. Setelah kata benda, masukkan kata milik, misalnya:

   piring, gelas, topi, baju,  jeruk,  celana,sepatu,  dll.

7. Setelah itu masukkan kata   perbuatan,   misalnya:

   duduk,  berdiri,  tertawa, melompat, membaca, dll 

8. Pada tahap kata perbuatan , agar lebih  menarik,  sambil

menunjukkan  kata  tersebut, anda praktekkan sambil katakan

 'Ibu melompat', 'kakak melompat', dsb 

TAHAP KEEMPAT : 

1. Ukuran  kartu  4  cm tinggi dan 20 cm panjang

2. Ukuran huruf  5  cm

3. Huruf kecil, warna hitam

4. Tunjukkan kata demi kata seperti tahap sebelumnya lalu gabungkan

 misalnya

'ini'  dan  kata  'bola'  menjadi  'ini  bola'.

5. Lakukan beberapa kata beberapa kali setiap hari. 

TAHAP KELIMA : (susunan kata dalam kalimat) 

1. Pilihkan   buku   sederhana   dengan   syarat   :

   Perbendaharaan  kata  tidak  lebih dari 150 kata

   Jumlah kata dalam 1 halaman tidak lebih dari 15-20 kata

   Tinggi huruf  tidak  kurang dari 5 mm

   Sedapat mungkin teks dan gambar   terpisah.

   Carilah  yang  mendekati  persyaratan tersebut 

2. Salinlah  kata-kata yang ada setiap halaman tersebut ke

dalam satu kartu kira-kira ukuran 1 kertas A4. Huruf hitam,

ukuran   tinggi  huruf  2,5  cm.  Jumlah  kartu  'susunan

kata-kata'  sama  dengan jumlah halaman buku. Ukuran kartu

harus  sama walaupun jumlah kata tidak sama. Sekarang anda

sudah mempunyai kartu-kartu dengan kata-kata yang ada dalam

setiap  halaman  buku  yang akan dibaca anak. Lubangi sisi

kartu-kartu  untuk dijilid menjadi sebuah buku yang isinya

sama namun ukurannya lebih besar. 

3. Bacakan  kartu  demi  kartu  pelan-pelan, sehingga anak

belajar  kalimat  demi kalimat. 

4. Bacakan dengan ekspresi sesuai  dengan  kalimat  bacaan.

5. Lakukan secara rutin, minimal  5  kartu sebanyak 3 kali selama 5

 hari.

6. Ketika membaca kartu pada hari lainnya, kartu yang lama sebaiknya

diulang.  Setelah  selesai  kartu-kartu  dibaca, simpanlah

beurutan  di dalam sebuah map atau dibinding deperti buku.

7.   Pada   saat   selesai  1  buku,  berilah  ijazah  yg

ditandatangani  ibu,  yg  menyatakan  bahwa pada hari ini,

tanggal  ini,  pada usia anak sekian, telah selesai dibaca

buku ini. 

TAHAP KEENAM : (susunan kata dalam kalimat) 

Pada tahap ini, anak sudah siap membaca buku yg sebenarnya,

karena dia sudah 2 kali melakukan hal itu. Perbedaan ukuran

huruf dari 5 cm (Tahap 4), 2,5 cm (Tahap 5) dan 5 mm (Tahap

6 ini) adalah sangat berarti khususnya bagi anak yang masih

sangat  muda,  karena  itu  juga  berarti  anda  membantu

mendewasakan dan memperbaiki indera penglihatannya. 

Kunci Keberhasilan 

1. Jangan membosankan anak

2. Jangan memaksa anak

3. Jangan tegang

4. Jangan   mengajarkan  abjad  terlebih  dahulu

5. Bergembiralah

6. Ciptakan  cara baru

7. Jawablah semua pertanyaan anak

8. Berilah buku bacaan yang bermutu 

========================================

Penutup 

Pada  dasarnya  anak  memiliki  kemampuan  yang luar biasa,

khususnya  pada  usia  yg  semakin kecil. Hanya diperlukan

perhatian, kemauan, ketekunan serta yang utama kasih sayang

orangtua untuk membuatnya mampu mengeluarkan potensinya yg

luar biasa tsb. 

Keinginan  orangtua  pada  umumnya adalah :

1. Menginginkan anak  mereka  bahagia  di dalam hidupnya dengan

menjadikan anak  mereka  tangguh  dan  siap  bersaing.  

2. Untuk  itu dibutuhkan  anak  yg cerdas baik rasional maupun

emosional serta  rasa ingin tahu yang besar. 

3. Anak dapat diketahui rasa ingin tahunya yang besar dari banyaknya

pertanyaan yg diajukannya.  

4. Untuk  memuaskan rasa ingin tahunya, anak harus  dibimbing

supaya  suka  membaca. 

5. Agar anak suka membaca,  dibutuhkan  kemampuan  membaca

dan sarana untuk membaca yang tidak lepas dari buku. 

Jadi, dengan buku yg merupakan "JENDELA ILMU", anak akan

mampu  membuka  cakrawala  kehidupan  masa depannya dengan

keceriaan. 

"Selamat berkarya untuk anak-anak tercinta !"

Sumber: Buku "Mengajar Bayi Membaca" - Glenn Doman

*******************************************************

Artikel ini adalah pendukung ebook "3 Tahun Pertama

yg Menentukan", yg menyediakan informasi cara mengasuh

anak balita anda menjadi anak yg CERDAS secara FISIK,

MENTAL dan SOSIAL.

Informasi lebih lanjut ttg ebook diatas dapat diperoleh

di: www.balitacerdas.com

*******************************************************

 
Posted in Uncategorized. Tags: . 2 Comments »