Kejang Tanpa Demam

(dikutip dari tabloid NAKITA)

Menurut dr. Merry C. Siboro, Sp.A, dari RS Metro Medical Centre, Jakarta, kejang adalah kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak. “Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan bayi atau anak terlalu tinggi atau bisa juga tanpa disertai demam.” Kejang yang disertai demam disebut kejang demam (convalsio febrilis). Biasanya disebabkan adanya suatu penyakit dalam tubuh si kecil. Misal, demam tinggi akibat infeksi saluran pernapasan, radang telinga, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih. Sedangkan kejang tanpa demam adalah kejang yang tak disertai demam. Juga banyak terjadi pada anak-anak. Penyebabnya bermacam-macam (lihat boks).

BISA DIALAMI SEMUA ANAK

Kondisi kejang umum tampak dari badan yang menjadi kaku dan bola mata berbalik ke atas. Kondisi ini biasa disebut step atau kejang toniklonik (kejet-kejet). Kejang tanpa demam bisa dialami semua anak balita. Bahkan juga bayi baru lahir. “Umumnya karena ada kelainan bawaan yang mengganggu fungsi otak sehingga dapat menyebabkan timbulnya bangkitan kejang. Bisa juga akibat trauma lahir, adanya infeksi-infeksi pada saat-saat terakhir lahir, proses kelahiran yang susah sehingga sebagian oksigen tak masuk ke otak, atau menderita kepala besar atau kecil,” tutur Merry.

Bayi yang lahir dengan berat di atas 4.000 gram bisa juga berisiko mengalami kejang tanpa demam pada saat melalui masa neonatusnya (28 hari sesudah dilahirkan). “Ini biasanya disebabkan adanya riwayat ibu menderita diabetes, sehingga anaknya mengalami hipoglemi (ganggguan gula dalam darah, Red.). Dengan demikian, enggak demam pun, dia bisa kejang.”

Selanjutnya, si bayi dengan gangguan hipoglemik akibat kencing manis ini akan rentan terhadap kejang. “Contohnya, telat diberi minum saja, dia langsung kejang.”

Uniknya, tambah Merry, bayi prematur justru jarang sekali menderita kejang. “Penderitanya lebih banyak bayi yang cukup bulan. Diduga karena sistem sarafnya sudah sempurna sehingga lebih rentan dibandingkan bayi prematur yang memang belum sempurna.”

JANGAN SAMPAI TERULANG

Penting diperhatikan, bila anak pernah kejang, ada kemungkinan dia bisa kejang lagi. Padahal, kejang tak boleh dibiarkan berulang selain juga tak boleh berlangsung lama atau lebih dari 5 menit. Bila terjadi dapat membahayakan anak.

Masalahnya, setiap kali kejang anak mengalami asfiksi atau kekurangan oksigen dalam darah. “Setiap menit, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel-sel pada otak, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak. Bayangkan apa yang terjadi bila anak bolak-balik kejang, berapa ribu sel yang bakal rusak? Tak adanya aliran oksigen ke otak ini bisa menyebakan sebagian sel-sel otak mengalami kerusakan.”

Kerusakan di otak ini dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan, bahkan retardasi mental. Oleh karenanya, pada anak yang pernah kejang atau berbakat kejang, hendaknya orang tua terus memantau agar jangan terjadi kejang berulang.

DIMONITOR TIGA TAHUN

Risiko berulangnya kejang pada anak-anak, umumnya tergantung pada jenis kejang serta ada atau tidaknya kelainan neurologis berdasarkan hasil EEG (elektroensefalografi). Di antara bayi yang mengalami kejang neonatal (tanpa demam), akan terjadi bangkitan tanpa demam dalam 7 tahun pertama pada 25% kasus. Tujuh puluh lima persen di antara bayi yang mengalami bangkitan kejang tersebut akan menjadi epilepsi.

“Harus diusahakan, dalam tiga tahun sesudah kejang pertama, jangan ada kejang berikut,” bilang Merry. Dokter akan mengawasi selama tiga tahun sesudahnya, setelah kejang pertama datang. Bila dalam tiga tahun itu tak ada kejang lagi, meski cuma dalam beberapa detik, maka untuk selanjutnya anak tersebut mempunyai prognosis baik. Artinya, tak terjadi kelainan neurologis dan mental. Tapi, bagaimana jika setelah diobati, ternyata di tahun kedua terjadi kejang lagi? “Hitungannya harus dimulai lagi dari tahun pertama.”

Pokoknya, jangka waktu yang dianggap aman untuk monitoring adalah selama tiga tahun setelah kejang. Jadi, selama tiga tahun setelah kejang pertama itu, si anak harus bebas kejang. Anak-anak yang bebas kejang selama tiga tahun itu dan sesudahnya, umumnya akan baik dan sembuh. Kecuali pada anak-anak yang memang sejak lahir sudah memiliki kelainan bawaan, semisal kepala kecil (mikrosefali) atau kepala besar (makrosefali), serta jika ada tumor di otak.

RAGAM PENYEBAB

“Kejang tanpa demam bisa berasal dari kelainan di otak, bukan berasal dari otak, atau faktor keturunan,” kata Merry yang lalu menjabarkannya satu per satu di bawah ini.

* Kelainan neurologis

Setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak bisa menimbulkan bangkitan kejang. Contoh, akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, atau kekurangan oksigen dalam jaringan otak (hipoksia).

* Bukan neurologis

Bisa disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, gula darah rendah akibat sakit yang lama, kurang asupan makanan, kejang lama yang disebabkan epilepsi, gangguan metabolisme, gangguan peredaran darah, keracunan obat/zat kimia, alergi dan cacat bawaan.

* Faktor keturunan

Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada karena anaknya berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.

WASPADAI DI BAWAH 6 BULAN

Orang tua harus waspada bila anak sering kejang tanpa demam, terutama di bawah usia 6 bulan, “Karena kemungkinannya untuk menderita epilepsi besar,” kata Merry. Masalahnya, kejang pada anak di bawah 6 bulan, terutama pada masa neonatal itu bersifat khas. “Bukan hanya seperti toniklonik yang selama ini kita kenal, tapi juga dalam bentuk gerakan-gerakan lain. Misal, matanya juling ke atas lalu bergerak-gerak, bibirnya kedutan atau tangannya seperti tremor. Dokter biasanya waspada, tapi kalau kejangnya terjadi di rumah, biasanya jarang ibu yang ngeh.”

Itulah sebabnya, orang tua harus memperhatikan betul kondisi bayinya.

MENOLONG ANAK KEJANG

1. Jangan panik, segera longgarkan pakaiannya dan lepas atau buang semua yang menghambat saluran pernapasannya. “Jadi kalau sedang makan tiba-tiba anak kejang, atau ada sesuatu di mulutnya saat kejang, segera keluarkan,” tutur Merry.

2. Miringkan tubuh anak karena umumnya anak yang sedang kejang mengeluarkan cairan-cairan dari mulutnya. “Ini sebetulnya air liur yang banyak jumlahnya karena saraf yang mengatur kelenjar air liur tak terkontrol lagi. Kalau sedang kejang, kan, saraf pusatnya terganggu. Bukan cuma air liur, air mata pun bisa keluar.”

Guna memiringkan tubuh adalah supaya cairan-cairan ini langsung keluar, tidak menetap di mulut yang malah berisiko menyumbat saluran napas dan memperparah keadaan.

3. Jangan mudah percaya bahwa meminumkan kopi pada anak yang sedang kejang bisa langsung menghentikan kejang tersebut. “Secara medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak mengalami kejang, yang malah bisa menyebabkan kematian.”

4. Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat, jangan sampai otak kelamaan tak mendapat oksigen. “Usahakan lama kejang tak lebih dari tiga menit. Siapkan obat antikejang yang disarankan dokter bila anak memang pernah kejang atau punya riwayat kejang.”

ANAK EPILEPSI HARUS KONTROL SETIAP 3 BULAN

Mereka yang berisiko menderita epilepsi adalah anak-anak yang lahir dari keluarga yang mempunyai riwayat epilepsi. Selain juga anak-anak dengan kelainan neurologis sebelum kejang pertama datang, baik dengan atau tanpa demam.

Anak yang sering kejang memang berpotensi menderita epilepsi. “Tapi jangan khawatir, anak yang menderita epilepsi, kecuali yang lahir dengan kelainan atau gangguan pertumbuhan, bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Prestasi belajar mereka tidak kalah dengan anak yang normal,” kata Merry.

Jadi, kita tak perlu mengucilkan anak epilepsi karena dia bisa berkembang normal seperti anak-anak lainnya. “Yang penting, ia tertangani dengan baik. Biasanya kalau anak itu sering kejang, dokter akan memberi obat yang bisa menjaganya supaya jangan sampai kejang lagi. Pada anak epilepsi, fokus perawatannya adalah jangan sampai terjadi kejang lagi. Untuk itu, perlu kontrol, paling tidak setiap 3 bulan agar monitoring dari dokter berjalan terus.”

Santi Hartono. Ilustrator: Pugoeh

 

About these ads
Posted in Uncategorized. Tags: . 15 Comments »

15 Responses to “Kejang Tanpa Demam”

  1. Ariex Says:

    Ehm….akhirnya kudapat artikel yang pas mengenai kejang karena neurologis, tapi koq ga ada gambarnya..:)

  2. fajarichwannoor Says:

    Mb, qr2 ada link ke artikel atau jurnal yg berhubungan dengan kejang pertama tanpa demam ga? atau first unprovocated seizure?

  3. Hellen Seipalla Says:

    Dear dr Merry,
    Anak saya umur 1.11 bln. Pada tgl 30 mei dia jatuh dan kejang hebat dan dlm 1 hari sebanyak 2x. Kami membawanya ke makassar ut EEG sesuai anjuran dokter dan hasilnya miklonis absens. Dia miumobat dipakene selama 6 hari setiap pagi dia dpt kejang2 kecil maksimal 55x sampe hari ke 7, 8 dan 9 dia ngak dpt sama sekali. Hari ke 10 di dpt kejang yg hebat 2x dan pada kejang ke2 di kasi stesolid dan hari ke 11 pagi dia dpt 1 kali di kasi stesolid. Saya mau tanya apakah ini normal dia dpt 2 hari ber turut2? Apa yg hrs kita buat. Terima kasih

  4. arthur Says:

    aku remaja usia 19 tahun. 12 agustus 2009 kemarin mengalami kejang tanpa demam selama kira kira 30 detik. kata orang tuaku waktu aku kecil aku gak pernah kejang diawali demam maupun tanpa demam. apakah aku menderita epilepsi? tolong dijawab…, terimakasih

  5. ehy Says:

    Aku seorang perempuan berusia 34 tahun, aku sudah mempunyai 3 orang anak, dua diantaranya lahir dengan operasi caesar. Tetapi sejak kehamilan yang ketiga mulai kandungan berusia 4 bulan aku mulai sering kejang hingga saat ini anakku telah lahir. Aku biasa mengalami kejang dalam keadaan tidur atau akan tidur. Kemudian setelah sadar aku merasa sangat pusing dan mual. Sebenarnya penyakit apa yang sedang ku alami?……

  6. alone Says:

    saya mengalami kejang ini kira” waktu SMP . waktu itu saya melihat teman saya yg kena penyakit ayan . tapi saya mengalami kejang yang aneh , 1 hari banyak sekali terjadi . kejang ini terjadi apabila saya gugup d’hadapan orang banyak . tapi kalau saya lupa akan kejang ini itu tidak terjadi . mohon diberitahu , saya itu kena penyakit apa ? tolong d’jawab . saya mohon dengan sangat .

  7. NITA SHALIHIN, Says:

    Anak saya umur 4 tahun sejak umur 9 bulan kejang demam pertama setelah itu sering sekali kejang dan saat ini sudah berumur 4 tahun dan kejang dengan tidak demam lagi dan menurut dokter Epelepsi , dan kejadian kejang sering pada waktu tidur yng ditandai dengan sebelumnya mengeluh kaki sakit dan sampai sekarang kami tidak tahu masuk epelepsi jenis apa dan saat ini mengkomsumsi obat Depakane dan keppra namun belum sesuai dengan jenis kejangnya dan kadang masih kejang 3 hari sekali atau sehari sekali ada yang bisa bantu sharing

  8. yusup Says:

    anak saya mengalami kejang tanpa demam. setelah saya eeg ternyata ada penyempitan urat sarap sebelah kanan & kiri…..dokter bilang anak saya epilepsi…..stelah diberi depaken dan saya berobat alternatf alhamdulillah anak saya sampai saat ini tidak kejang lagi,,,,,,,

  9. rita Says:

    Pak yusup bisa minta alamat email ato no tlp ga?keponakan saya umur 5bln punya masalah yang sama,mohon bantuan nya pak no telp saya 0852 137 53000 terima kasih.

  10. evi Says:

    sudah seminggu ini anakku 4 bl mengalami kejang tanpa demam namun kejang-kejangnya tidak lama sekarang sdh berobat dg dokter spesialis anak , yang saya ingin tanyakan :
    1, bisakah anak saya sembuh dari kejang-kejangnya ?
    mohon jawabannya, mksh

  11. rio Says:

    thanks,artikelnya.

  12. Henry Says:

    anak saya pernah mengalami kejang tanpa demam, karena memang sebelumnya sakit, muntaber dan tidak dapat makan maupun minum selama 2 hari, dan hari ketiganya terjadi kejang tsb, hingga terulang 2x dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.
    saat ini anak saya mendapat obat DEPAKENe, dan sudah sebulan ini Puji Tuhan baik2 saja.
    kata dokternya, obat tersbt harus dikonsumsi selama 1 thn.

    yg saya ingin tanyakan, apakah perlu minum obat tsb, apabila seandainya penyebab kejangnya karena penyakit mutaber yg dialaminya pada saat itu. (karena menurut saya kondisi saat tersebut mgkn memang agak parah diarenya.)

    mgkn ada user yg ingin share bisa ke email saya: elk*17*@gmail.com
    note : ganti tanda * dengan angka 4

    trims

  13. yuli Puspitasari Says:

    anak saya usianya 3 tahun dan baru kemarin tgl 3 oktober 2012 dia mengalami seperti kejang matanya turun pandangannya kosong, badannya lemes dan gemetaran kurang lebih 5 menit tapi tanpa demam dan saat itu dia dalam keadaan tidur tapi sebelum dia kejang anak saya minum obat racikan dari dokter dan suhu ruangan memang dingin bgt dan kejadian itu baru berlangsung sehari dan saya bawa kedokter terdekat dan saya ceritakan semuanya dan dokter spesialis anak tersebut langsung mengvonis anak saya sakit kejang epelepsi saya kaget karena anak saya blm pernah seperti itu sdh gitu langsung diberi obat DEPAKANE dan disuruh EEG.tapi saya masih ragu masa sich anak saya kena sakit epelepsi (bukannya penyakit Epelepsi adalah keturunan) mohon bantuannya apakah anak saya memang Epelepsi.

  14. Indriyani Pasaribu Says:

    anak sy kejang tanpa demam sudah 3 kali obat apa yang harus sy berikan? dan apakah diusia 7 bl ini sudah dapat di periksa EEG dan CT Scan? terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: